Wednesday, May 29, 2013

Melahirkan Banyak Kapten Nasional, Stadion Ini Terlupakan

Satu bulan belakangan, stadion sepak bola Kampung Durian di Jalan A. Yani, Link.02, Kelurahan Durian, Kecamatan Bajenis, Kota Tebing tinggi, suasananya setiap sore mulai dihiasi hiruk pikuk penonton kulit bundar. Kompetisi sepak bola antar klub sekota Tebingtinggi dan sekitarnya kembali menggeliat, setelah hampir 20 tahun, suasana seperti itu tak pernah terdengar.

Belasan klub dari dalam dan luar kota ikut meramaikan kompetisi yang digelar Pengurus cabang PSSI kota Tebing tinggi. Panitia pun membagi klub peserta dalam dua peringkat, yakni divisi utama dan divisi 1. Diperkirakan, roda kompetisi akan berlangsung satu bulan lebih guna penyusunan klasemen di antara klub-klub yang ada. Kompetisi itu, bak membalas kerinduan belasan tahun, karena setiap hari disaksikan ratusan penonton yang terus bertambah, memenuhi arena yang sekarang terlihat sekarat.

Jujur, tak pantas sebenarnya jika kompetisi antar klub sepak bola dilaksanakan di stadion ini, karena fasilitasnya tak layak. Lapangannya pun telah puluhan tahun tanpa perbaikan. Demikian pula dengan stadion yang hanya tinggal puing-puing. Serta fasilitas pendukung sama sekali tak ada. Stadion Kampung Durian itu, pantasnya disebut sebagai lapangan tempat lembu, kerbau, kambing dan 'hantu'.

Stadion Kampung Durian yang sejak lama jadi lapangan sepak bola kebanggaan Kota Tebingtinggi, kini jejak historisnya menyimpan sejuta kenangan manis dan teramat sulit untuk dilupakan masyarakat. Itulah satu-satunya lapangan yang pernah melahirkan dua kapten tim nasional PSSI, yakni Ramlan Yatim di era 1950-an dan Anshari Lubis di era 1990-an. Selain sejumlah nama pesepak bola yang pernah memperkuat tim nasional maupun Sumatera Utara (Sumut) dan klub-klub ternama lainnya.

Dari sejumlah keterangan, stadion PSKTS yang terletak di Kampung Durian dibangun sekitar tahun 1930 oleh Tengku Alamsyah yang saat itu sebagai sultan Kerajaan Padang. Sultan Alamsyah, menjadikan lapangan bola itu sebagai base camp klub sepak bola Padang Sport Club yang didirikan dan dipimpinnya. Lapangan bola itu dilengkapi dengan stadion mini, di belakangnya terdapat juga lapangan tenis, dengan pembatas dua jalan. Sekarang menjadi Jalan A. Yani dan Jalan Kumpulan Pane. Sayangnya ketika lapangan bola itu dibangun dari tanah penonggol Kebun Bahilang, pengagasnya tak memperhatikan konsep modern, sehingga lapangan itu tak memiliki santel ban.

"Saya pernah dengar Padang Sport Club itu dari orang tua," ujar saksi sejarah stadion Kampung Durian, Aswad Asmara, (73), Rabu (29/05/2013) di sela-sela keterlibatannya sebagai panitia kompetisi Pengurus cabang PSSI. Pria yang lahir pada 1939 itu, mengakui stadion itu awalnya memang milik kesultanan Padang dan tidak masuk dalam Gementee Kota Tebing tinggi.

Di era pasca kemerdekaan, tutur Aswad Asmara, stadion Kampung Durian masuk wilayah Kewedanaan Padang Bedagai, Kabupaten Deli Serdang. Lapangan itu, di era 1950-an menjadi basecamp Persatuan Sepakbola Kewedanaan Padang Bedagai (PSKPB) yang berinduk ke Deli Serdang. Bonden PSKPB, membawahi sejumlah klub di Kewedanaan Padang Bedagai yang umumnya merupakan klub sepak bola perkebunan dan desa.

Misalnya, Paya Pinang, Tanah Besih, Pabatu, Sibulan, Bandar Bejambu, Gunung Pamela, Bajalingge (Dolok Merawan), Dolok Masihul hingga Rambung Sialang. Sedangkan klub sepak bola Gementee Tebingtinggi, misalnya Muda Sebaya, Tebing Putra dan beberapa klub yang dia lupa namanya. Kesemua klub itu, sekitar 1974 ketika terjadi pemekaran Kota Tebingtinggi, jadi cikal bakal berdirinya Persatuan Sepak Bola Tebingtinggi Sekitarnya, dikenal dengan akronim PSKTS.

Berdirinya PSKTS dengan dukungan sejumlah klub desa dan perkebunan itu membuat bonden ini disegani di tingkat Sumatera Utara (Sumut). Rutinitas kompetisi yang digelar, juga melahirkan sejumlah pemain sepak bola yang cukup handal. Seperti, kiper Taufik Lubis dan penyerang Effendi Maricho di era pertengahan 1980-an. Tak hanya melahirkan sejumlah pesepak bola handal.

Stadion Kampung Durian juga di masa lalu, memiliki kapasitas sebagai stadion yang layak tanding untuk tingkat nasional. Kompetisi Galatama era 1980-an, misalnya pernah mengambil lokasi bertanding di stadion itu. Beberapa pertandingan yang masih diingat, misalnya klub Sari Bumi Raya Bandung dan Pardedetex Medan, pernah merasakan empuknya merumput di stadion Kampung Durian.

Namun, di era 1990 aroma harum stadion Kampung Durian mulai meredup, setelah Pemko Tebingtinggi kurang merespon dinamika sepak bola di kota itu. Ditambah lagi dengan terjadinya stagnasi di organisasi PSKTS setelah bonden jadi ajang untuk kepentingan pribadi pengurusnya.

Sejak itu, sejumlah klub perkebunan pun pindah dan mencari bonden lain, diantaranya PS Rambung Sialang. Kondisi itu berlangsung hingga kini, di mana PSKTS tak pernah melakukan aktifitas dan klub-klub pun tiarap, karena berbagai persoalan melilitnya.

Keberadaan Pengcab PSSI pun awalnya tak menunjukkan greget menggembirakan. Namun, belakangan kepengurusan baru, mulai menunjukkan itikad baik untuk memajukan sepak bola 'Kota Kue Kacang' dulu disebut 'Kota Lemang' yang telah mati suri.

Roda kompetisi antar klub Pengcab PSSI itu, selayaknya diapresiasi positif. Satu pesan yang harus diingat, menghindari kepentingan politik olah raga jangka pendek. Akhirnya, selamat berkompetisi untuk melahirkan kembali pesepak bola tangguh di Kota Tebingtinggi tercinta.

Monday, May 6, 2013

Dukung Buruh Outsourcing Perjuangkan Nasib Mereka

Karyawan kontrak Outsourcing (alih daya) bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45. Pengusaha Outsourcing kerap dinilai sebagai pengusaha curang sebab seringkali menghindari kewajiban atas hak-hak buruh. Seperti misalnya; pesangon, hak akan perumahan, pengobatan, dan hak-hak lainnya yang seharusnya di dapat buruh. Sementara pemerintah terlihat tidak peduli padahal banyak buruh mengajukan tuntutan penghapusan outsourcing yang selalu berujung gagal. Sudah berapa lama buruh memperjuangkannya, tapi apa hasilnya,...?

Secara hukum karyawan kontrak diartikan dengan status bukan karyawan tetap atau dengan kalimat lain karyawan yang bekerja hanya untuk waktu tertentu berdasarkan kesepakatan antara karyawan dengan perusahaan pemberi kerja. Dalam istilah hukum Karyawan kontrak sering disebut 'karyawan PKWT', maksudnya Karyawan dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu. Artinya jika ada karyawan yang dikontrak 5 (lima) tahun maka karyawan secara otomatis hukum, setelah 3 (tiga) bulan waktu ia bekerja menjadi karyawan tetap.

UU perburuhan mengatur, buruh bisa jadi buruh dengan masa percobaan selama 3 bulan, kalau sesudah itu dia masih tetap dipekerjakan. Maka dia mesti di-SK-kan sebagai pegawai tetap, kecuali terhadap pekerjaan musiman. Misalnya usaha memetik panen, dan sejenisnya, mereka itu dianggap pekerja musiman. Jadi tidak untuk pekerjaan tetap, seperti misalnya security, buruh pabrik dan lain-lain. Sedangkan outsoursing itu artinya mempekerjakan orang di perusahaan lain, karena perusahaan tersebut mendapat keuntungan. Di lain pihak si buruh kehilangan haknya sebagai buruh, ya uang pesangon, jaminan sosial dan lain-lain.

Padahal UU Perburuhan menyatakan kalau bekerja pada suatu perusahaan lebih dari 3 bulan ia harus diangkat jadi pegawai tetap, karena kalau terjadi PHK dia mendapat pesangon, dan dalam bekerja dia mendapat jaminan sosial sebagai buruh. Bahwa lamanya buruh bekerja akan menentukan jumlah pesangon yang dia terima, dan juga dia berhak atas jenjang karier, bukankah begitu?

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN, Pasal 59 :
(1) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu hanya dapat dibuat untuk
pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan
pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu, yaitu:
a. pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya;
b. pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak
terlalu lama dan paling lama 3 (tiga) tahun;
c. pekerjaan yang bersifat musiman.
d. pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru,
atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan.
(2) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang bersifat tetap.
(3) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu dapat diperpanjang atau diperbaharui.
(4) Perjanjian kerja waktu tertentu yang didasarkan atas jangka waktu
tertentu dapat diadakan untuk paling lama 2 (dua) tahun, dan hanya
boleh diperpanjang 1 (satu) kali untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun.

Yang dimaksud dengan pekerjaan yang bersifat tetap dalam ayat ini adalah pekerjaan yang sifatnya terus menerus, tidak terputus-putus, tidak dibatasi waktu dan merupakan bagian dari suatu proses produksi dalam satu perusahaan atau pekerjaan yang bukan musiman.

Pekerjaan yang bukan musiman adalah pekerjaan yang tidak tergantung cuaca atau suatu kondisi tertentu. Apabila pekerjaan itu merupakan pekerjaan yang terus menerus, tidak terputus-putus, tidak dibatasi waktu, dan merupakan bagian dari suatu proses produksi.

Tetapi tergantung cuaca atau pekerjaan itu dibutuhkan karena adanya suatu kondisi tertentu, maka pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan musiman yang tidak termasuk pekerjaan tetap sehingga dapat menjadi obyek perjanjian kerja waktu tertentu.

Nah, dalam praktek outsoursing telah melakukan kerja kontrak untuk pekerjaan tetap. Padahal kerja kontrak hanya boleh menurut undang-undang untuk pekerjaan musiman, atau pekerjaan yang selesai dalam jangka waktu tertentu.

Selain itu kerja kontrak membebaskan pengusaha dari memberikan hak-hak buruh, seperti pesangon dan jaminan sosial lainnya. Mereka sampai matipun akan tetap jadi buruh kasar, kalau berhenti bekerja, habis kontrak tidak mendapat pesangon.

Misalnya buruh perempuan, kalau seorang cleaning servis perempuan hamil, sehingga tidak bisa kerja lagi, ya berhenti begitu saja. Ah, sebagai saudara sebangsa dan setanah air, rasanya patutlah kita ikut berbelasungkawa atas tragisnya nasib mereka.

Kepada saudara-saudariku, buruh seluruh Indonesia. Ini yang dapat aku lakukan, ini bentuk partisipasi ku, serta doa kepada Allah, aku berharap tulisan ini dapat menyadarkan para pemimpin negeri ini, agar menghargai setiap tetes keringat kalain semua secara patut dan pantas.

Sahabat buruh Indonesia, mari kita doakan, bahwa tiada kekuatan melebihi kekuatan Allah. Dia tidak tidur dan tidak mengantuk, Maha mendengar dan maha melihat, tak sesuatupun yang bisa luput dari pengetahuan-NYA! Mudah-mudahan perjuangan kalian kemarin berhasil.

Maka lanjutkan perjuangan kalian, teruslah berjuang. Katakan pada bapak-bapak di Senayan sana, kalau tidak ada buruh di Indonesia ini, apakah negeri ini bisa eksis?

Mereka harus pikirkan nasib buruh dan peranan buruh dalam menghasilkan uang untuk negara ini, sehingga mereka yang di Senayan bisa makan enak, hidup enak dengan gaji besar..!

Selamat berjuang saudaraku, hidup buruh Indonesia!!!

Sunday, May 5, 2013

Ciri Melayu dari Adat, Agama dan Bahasa

Melayu secara puak (etnis, suku) bukan dilihat dari faktor genekologi seperti kebanyakan puak-puak lain. Di Malaysia, tetap mengaku beretnis Melayu walau moyang mereka beretnis Jawa, Mandailing, Bugis, Keling dan lainnya. Beberapa tempat di Sumatera Utara, ada beberapa Komunitas keturunan Batak yang mengaku 'Orang Kampong' etnis Melayu.

Ini semua karena diikat oleh kesamaan agama yaitu Islam, bahasa dan adat Resam Melayu. Orang Melayu memegang filsafat: "Berturai, Bergagan, Bersyahadat". Berturai bermakna mempunyai sopan santun baik bahasa dan perbuatan dan memegang teguh adat resam, menghargai orang yang datang, serta menerima pembaharuan tamaddun yang senonoh.

Usul menunjukkan asal, bahasa menunjukkan bangsa. Taat pada petuah, Setia pada sumpah, mati pada janji, melarat karena budi. Hidup dalam pekerti, mati dalam budi". "Tak cukup telapak tangan, nyiru kami tadahkan". "Apabila meraut selodang buluh, siapkan lidi buang miangnya. Apabila menjemput orang jauh, siapkan nasi dengan hidangnya".

"Sekali air bah, sekali tepian berubah. Bergagan bermakna keberanian dan kesanggupan menghadapi tantangan, harga diri dan kepiawaian". "Kalau sudah dimabuk pinang, daripada ke mulut biarlah ke hati. Kalau sudah maju ke gelanggang, berpantang surut biarlah mati. Bermula dari hulu, haruslah berujung pula ke hilir".

"Apa tanda si anak melayu, matinya ditengah gelanggang, tidurnya di puncak gelombang, makannya di tebing panjang, langkahnya menghentam bumi, lenggangnya menghempas semak, tangisnya terbang kelangit, esaknya ditelan bumi, yang tak kenalkan airmata, yang tak kenalkan tunduk kulai". Bersahadat bermakna Orang Melayu disebut Melayu jika sudah mengucap kalimat syahadat, yaitu mengakui Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai Rasul panutan.

Anak Melayu lebih dahulu diperkenalkan mengaji Al Qur'an, baru mengenal ilmu pengetahuan yang lain. Kata 'Laailaha Illallah Muhammadarosulullah' sebagai gerbang keislaman, selalu dipakai Orang Melayu dalam berbagai amalan, karena melayu percaya bahwa semua amalan akan tidak tertolak dalam pemahaman Islam jika mengucap Laailaha Illallah Muhammadarosulullah. Makanya jika seorang anak berkelakuan menyimpang dari kaedah yang diatur, maka ia disebut, 'Macam anak siarahan, Macam anak tak disyahadatkan".

"Bergantung kepada satu, berpegang kepada yang Esa". "Untuk apa meramu samak, kalau tidak dengan pangkalnya. Untuk apa berilmu banyak, kalau tidak dengan amalnya." "Budak jambi sedang menampi, alahai budak tinggal sanggulnya. Banyak jampi perkara jampi, Allah jua letak kabulnya".

Jadi Melayu adalah beragama Islam, beradat resam Melayu dan Berbahasa Melayu". Karena ikatan Islam itulah, Orang Melayu yang masih berpegang pada konsep tradisi namun akan takut jika tidak disebut Islam. (berbagai sumber)