Monday, May 6, 2013

Dukung Buruh Outsourcing Perjuangkan Nasib Mereka

Karyawan kontrak Outsourcing (alih daya) bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45. Pengusaha Outsourcing kerap dinilai sebagai pengusaha curang sebab seringkali menghindari kewajiban atas hak-hak buruh. Seperti misalnya; pesangon, hak akan perumahan, pengobatan, dan hak-hak lainnya yang seharusnya di dapat buruh. Sementara pemerintah terlihat tidak peduli padahal banyak buruh mengajukan tuntutan penghapusan outsourcing yang selalu berujung gagal. Sudah berapa lama buruh memperjuangkannya, tapi apa hasilnya,...?

Secara hukum karyawan kontrak diartikan dengan status bukan karyawan tetap atau dengan kalimat lain karyawan yang bekerja hanya untuk waktu tertentu berdasarkan kesepakatan antara karyawan dengan perusahaan pemberi kerja. Dalam istilah hukum Karyawan kontrak sering disebut 'karyawan PKWT', maksudnya Karyawan dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu. Artinya jika ada karyawan yang dikontrak 5 (lima) tahun maka karyawan secara otomatis hukum, setelah 3 (tiga) bulan waktu ia bekerja menjadi karyawan tetap.

UU perburuhan mengatur, buruh bisa jadi buruh dengan masa percobaan selama 3 bulan, kalau sesudah itu dia masih tetap dipekerjakan. Maka dia mesti di-SK-kan sebagai pegawai tetap, kecuali terhadap pekerjaan musiman. Misalnya usaha memetik panen, dan sejenisnya, mereka itu dianggap pekerja musiman. Jadi tidak untuk pekerjaan tetap, seperti misalnya security, buruh pabrik dan lain-lain. Sedangkan outsoursing itu artinya mempekerjakan orang di perusahaan lain, karena perusahaan tersebut mendapat keuntungan. Di lain pihak si buruh kehilangan haknya sebagai buruh, ya uang pesangon, jaminan sosial dan lain-lain.

Padahal UU Perburuhan menyatakan kalau bekerja pada suatu perusahaan lebih dari 3 bulan ia harus diangkat jadi pegawai tetap, karena kalau terjadi PHK dia mendapat pesangon, dan dalam bekerja dia mendapat jaminan sosial sebagai buruh. Bahwa lamanya buruh bekerja akan menentukan jumlah pesangon yang dia terima, dan juga dia berhak atas jenjang karier, bukankah begitu?

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN, Pasal 59 :
(1) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu hanya dapat dibuat untuk
pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan
pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu, yaitu:
a. pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya;
b. pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak
terlalu lama dan paling lama 3 (tiga) tahun;
c. pekerjaan yang bersifat musiman.
d. pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru,
atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan.
(2) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang bersifat tetap.
(3) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu dapat diperpanjang atau diperbaharui.
(4) Perjanjian kerja waktu tertentu yang didasarkan atas jangka waktu
tertentu dapat diadakan untuk paling lama 2 (dua) tahun, dan hanya
boleh diperpanjang 1 (satu) kali untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun.

Yang dimaksud dengan pekerjaan yang bersifat tetap dalam ayat ini adalah pekerjaan yang sifatnya terus menerus, tidak terputus-putus, tidak dibatasi waktu dan merupakan bagian dari suatu proses produksi dalam satu perusahaan atau pekerjaan yang bukan musiman.

Pekerjaan yang bukan musiman adalah pekerjaan yang tidak tergantung cuaca atau suatu kondisi tertentu. Apabila pekerjaan itu merupakan pekerjaan yang terus menerus, tidak terputus-putus, tidak dibatasi waktu, dan merupakan bagian dari suatu proses produksi.

Tetapi tergantung cuaca atau pekerjaan itu dibutuhkan karena adanya suatu kondisi tertentu, maka pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan musiman yang tidak termasuk pekerjaan tetap sehingga dapat menjadi obyek perjanjian kerja waktu tertentu.

Nah, dalam praktek outsoursing telah melakukan kerja kontrak untuk pekerjaan tetap. Padahal kerja kontrak hanya boleh menurut undang-undang untuk pekerjaan musiman, atau pekerjaan yang selesai dalam jangka waktu tertentu.

Selain itu kerja kontrak membebaskan pengusaha dari memberikan hak-hak buruh, seperti pesangon dan jaminan sosial lainnya. Mereka sampai matipun akan tetap jadi buruh kasar, kalau berhenti bekerja, habis kontrak tidak mendapat pesangon.

Misalnya buruh perempuan, kalau seorang cleaning servis perempuan hamil, sehingga tidak bisa kerja lagi, ya berhenti begitu saja. Ah, sebagai saudara sebangsa dan setanah air, rasanya patutlah kita ikut berbelasungkawa atas tragisnya nasib mereka.

Kepada saudara-saudariku, buruh seluruh Indonesia. Ini yang dapat aku lakukan, ini bentuk partisipasi ku, serta doa kepada Allah, aku berharap tulisan ini dapat menyadarkan para pemimpin negeri ini, agar menghargai setiap tetes keringat kalain semua secara patut dan pantas.

Sahabat buruh Indonesia, mari kita doakan, bahwa tiada kekuatan melebihi kekuatan Allah. Dia tidak tidur dan tidak mengantuk, Maha mendengar dan maha melihat, tak sesuatupun yang bisa luput dari pengetahuan-NYA! Mudah-mudahan perjuangan kalian kemarin berhasil.

Maka lanjutkan perjuangan kalian, teruslah berjuang. Katakan pada bapak-bapak di Senayan sana, kalau tidak ada buruh di Indonesia ini, apakah negeri ini bisa eksis?

Mereka harus pikirkan nasib buruh dan peranan buruh dalam menghasilkan uang untuk negara ini, sehingga mereka yang di Senayan bisa makan enak, hidup enak dengan gaji besar..!

Selamat berjuang saudaraku, hidup buruh Indonesia!!!

No comments :

Post a Comment