Sunday, June 2, 2013

"Dokter, Menunggu Itu Sangat Membosankan"

Pagi itu, Kamis (30/05/2013) pasien paruh baya bersama anaknya memasuki ruang poliklinik RSUD Kumpulan Pane dengan tertatih-tatih, turun dari becak. Wanita tua itu berniat memeriksakan kesehatannya, karena beberapa hari belakangan mengalami rasa sakit di bagian perut. Tubuhnya terlihat lemah, wajahnya pucat kusut dan saat duduk harus disangga anaknya agar tak oleng.

Saat itu, tak terlihat ada perawat yang datang menghampirinya. Petugas administrasi di front office hanya melihat sesaat pada ibu tua itu, kemudian sibuk kembali dengan perkerjaannya. Si anak pun membeli karcis dan kembali mendampingi ibunya setelah mendapat selembar karcis.

Diperkirakan, lebih dari dua jam, ibu tua itu menunggu sang dokter yang diharapkan memeriksanya. Peredaran detik dan menit itu, dilalui dengan kegelisahan yang terpancar dari wajah si anak, sambil sesekali sang ibu tua meringis menahan sakit.

“Dokternya lama kali pun,” keluh si anak yang mendampingi orangtuanya. Tapi mereka tak beranjak, terus menunggu hingga dokter yang dinanti masuk ruangan.

Fragmen klasik, tentang lambannya dokter masuk bertugas tetap saja terjadi di RSUD Kumpulan Pane Kota Tebingtinggi, meski secara fisik, peralatan kesehatan maupun menajemen/adminstrasi rumah sakit, relatif kian membaik. Harapan pasien yang tinggi akan perhatian dan jamahan tangan dokter sebagai obat psikologis untuk meringankan sakit mereka, tetap saja terasa mahal di rumah sakit kebanggaan Pemko Tebingtinggi itu.

Tak hanya soal klasik, sejumlah keluhan muncul dari masyarakat atas praktek-praktek yang dinilai sudah tidak zamannya lagi. Beberapa keluhan yang terekam dari masyarakat, yakni terjadinya pencampuran pasien dari penyakit berbeda di satu ruangan, khususnya di ruang kelas III yang di huni penerima Jamkesmas dan Jamkesda. Kemudian, tarif instalasi gawat darurat (IGD) yang tak jelas, sehingga membuka peluang pungli. “Kami bingung berapa harga pasti di IGD, karena lain petugas lain harganya,” keluh Anita, warga Dolok Masihul.

Tak cuma itu, keberadaan kamar rawat inap VIP juga jadi keluhan. Ruang khususnya ini, tak jelas pengaturannya, karena bersifat protektif dan tak sembarang pasien yang masuk ke sana. Demikian pula dengan harga obat-obatan di apotik RSUD yang lebih tinggi dari harga di luar.

Dari aspek administrasi dan hubungan kerja, sejumlah sumber menyebutkan soal rendahnya harmoni sosial dan pembagian kerja di RS itu. Akibatnya, banyak pasien yang tidak mendapatkan pelayanan semestinya. Hal itu berpangkal pada hubungan dokter dan perawat. Di mana, ada dokter yang disukai dan mendapat perhatian perawat hingga pasien dokter ketiban perhatian.

Tapi pada dokter yang tak disukai, si pasien pun akan menerima akibatnya, tak dapat perhatian serius perawat. Bahkan, pada pasien yang menggunakan kartu Askes, Jamkesmas dan Jamkesda, tak jarang menghadapi perlakuan kurang simpatik dan buruk dari perawat. “Kalau pasien miskin, biasanya banyak urut dada saja di sini,” ujar keluarga Jamkesmas di ruang Kelas III.

Akan halnya masa tugas dokter spesialis juga jadi sorotan. Pembagian hari kerja antar dokter spesialis, seringkali berdampak merugikan pasien. Misalnya, spesialis bedah ada dua, mereka membagi jadwal kerja masing-masing tiga hari. Maka saat si pasien bertemu dengan spesialis A, besoknya bertemu dengan spesialis B. Ujungnya, pasien menerima advis berbeda, sehingga membuat bingung pasien, selain biaya perobatan yang mahal.

Namun, sejumlah keluhan itu ditampik Ka RSUD Kumpulan Pane, Vive Kananda. "Apa yang dikeluhkan masyarakat ada benarnya, tapi harus dipahami juga penyebabnya,” ujar Kananda, Sabtu (1/6/2013), di ruang kerjanya.

Diungkapkan, pencampuan pasien beda penyakit di Klas III memang dilakukan, karena keterbatasan ruangan. Namun, dalam waktu dekat akan ada perubahan, karena bertambahnya ruangan dari relokasi AKBID Pemko Tebingtinggi. “Tahun ini mudah-mudah bisa diatasi,” harap Kananda. Pun, soal keluhan mahalnya biaya obat di apotik, diakui apotik itu bukan milik RSUD, sehingga pihak ketiga bebas memanfaatkan apotik yang ada atau tidak.

Sedangkan soal tarif IGD yang tak jelas, diakui sejak lama telah terdeteksi dan saat ini dalam proses perbaikan. “Kita telah menerapkan sistem pembayaran satu pintu. Sehingga pungli bisa diminimalisir,” tegas alumni Fak. Kedokteran Universitas Andalas.

Demikian pula dengan harmoni kerja, terus menerus dilakukan perbaikan dengan memberikan semacam reward and punisment kepada perawat dan petugas medis lainnya. Bahkan, untuk perawat sudah ada tim ahli yang menilai kinerja mereka nantinya. Soal keluhan terhadap dokter spesialis, Kananda mengakui, hal itu disebabkan minimnya tenaga spesialis yang ada.

Umumnya, dokter spesialis yang bekerja merupakan tenaga kontrak bersifat pengabdian. “Mau saja mereka di sini mengabdi sudah bagus. Jika dibanding dengan salary yang mereka terima. Secara profesional mungkin mereka menolak,’ ungkap alumni spesialis THT Fak. Kedokteran USU itu. Saat ini, RSU baru mampu mengikat kontrak, sehingga memang banyak kelemahannya.

Terus Meningkat

Ditengah banyaknya keluhan masyarakat, RSUD Kumpulan Pane sebagai hasil kerja besar mantan Walikota Tebingtinggi periode 2000-2010, Abdul Hafiz Hasibuan, layak di apresiasi. Di akhir masa kepemimpinannya UPTD itu berhasil naik kelas dari rumah sakit tipe C menjadi tipe B, setelah terus menerus di periode lima tahun terakhir Hafiz, mengalami perbaikan di berbagai segi. Kini RSU itu menjadi unit pelayanan kesehatan paling dibanggakan masyarakat Kota Tebingtinggi.

Dari data hingga September 2010, jumlah tenaga kesehatan yang mengabdi di rumah sakit itu mencapai 285 orang, ditambah tenaga kontrak sebanyak 141 orang. Dengan jumlah itu, RSUD masih kekurangan tenaga kesehatan mencapai 243 orang lagi. Total dokter spesialis yang bekerja 18 orang, dokter umum 27 orang, dokter gigi 5 orang, dibantu ratusan tenaga kesehatan lain. Dari jumlah itu, RSUD memiliki 12 unit poliklinik, yakni poli umum, spesialis penyakit dalam, spesialis anak, paru, bedah, kebidanan dan kandungan, THT, mata, gigi dan mulut serta poli jiwa, jantung dan neurologi.

Sedangkan untuk pelayanan rawat inap, RSUD memiliki ruangan VVIP, VIP, kelas I, II, III, ruang isolasi, anak dan kebidanan serta ICU,mencapai 180 tempat tidur. Juga dilengkapi pelayaan kamar operasi, radiologi, lab.patologi klinis, patologi anatomi, bank darah, haemodialisa, rehabilitasi medik, farmasi, gizi dan keluarga miskin dan rekam medis.

Hingga Agustus 2010, jumlah pasien yang berkunjung di RSUD melonjak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Misalnya, Instalasi Gawat Darurat dikunjungi 4.528 pasien, rawat jalan 23.233 orang, ruang operasi 591 pasien, ICU 209 pasien, radiologi 3.169 pasien. Kemudian laboratorium 50.601 tes, haemodialisa 1.485 orang, fisioterapi 1.289 orang dan rekam medik 30.473 pasien.

Sejumlah prestasi pun telah diraih RSUD beralamat di Jalan Kumpulan Pane itu. Sejak 2007 ada sejumlah penghargaan yang diterima, yakni penghargaan Presiden RI sebagai rumah sakit sayang ibu, penampilan terbaik RS pemerintah kelas C Prov. Sumut (2008), rumah sakit saya ibu dan bayi tingkat provinsi dari Meneg Pemberdayaan Perempuan (2009), rumah sakit sayang ibu Sumut (2009), satpam RS terbaik Sumut (2009) dan juara II penilaian kinerja terbaik RS Pemerintah Kelas B Sumut (2010).

Kini, kinerja RSUD terus saja dipacu dengan berbagai program. Belum lama ini, Tim Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) berkunjung melakukan penilaian 12 jenis pelayanan kesehatan. Diharapkan, hasil itu, RSUD akan mendapat penilaian akreditasi kesehatan sebagai tolok ukur keberhasilan layanan. “Kita ingin akreditasi itu jadi bukti keabsahan atas layanan kesehatan di sini,” kata Kananda.

Selanjutnya, RSUD akan menggapai pengakuan ISO 9001:2008 untuk manajemen mutu. Bahkan, bukan tidak mungkin ISO 14001 sebagai institusi ramah lingkungan, bisa dikejar.

Pun demikian, di saat langkah terus melaju ke depan, tak salah jika keluhan masyarakat juga jadi perhatian serius. Hal klasik misalnya, jam kerja dokter yang baru bertugas pukul 10.00 dan selesai 12.00, meskinya mendapat modifikasi lebih lentur.

Karena bagaimana pun juga bagi si pasien "menunggu itu adalah sangat membosankan.”

No comments :

Post a Comment