Thursday, November 7, 2013

ARB dan Tragedi Es Tebu

Ketua Umum Partai Golkar Abu Rizal Bakrie bersuara soal 'insiden es tebu'. Melalui akun Twitternya, @aburizalbakrie, dia menilai pemberitaan insiden es tebu adalah kesalahpahaman.
"@D4rm4nsy4h sy tdk minum es tebu seperti yg ditulis disitu. Sy cek ke panitia jg sudah dibayar. Kesalahpahaman saja," kata Ical, sapaan Aburizal, Rabu, 6 November 2013.

Ical menulis hal tersebut mengomentari pemilik akun @D4rm4nsy4h yang menulis supaya Ical memastikan pembayaran es tebu tersebut. "@D4rm4nsy4h cek lagi Pak, siapa tahu panitianya ngakunya sudah bayar padahal belum. Dan nama anda dirugikan."

'Insiden es tebu' ini bermula saat Ical, sapaan Abu Rizal bakrie, makan bersama sekitar 50 tukang sapu dan ojek pada Senin, 4 November 2013. Acara makan-makan ini berlangsung di Rumah Makan Munir di Thehok, Kota Jambi. Selain makan di restoran tersebut, mereka juga menikmati es tebu yang dijajakan penjual dengan gerobak yang kebetulan ada di depan restoran.

Namun usai makan, tak satu pun orang yang membayar penjual es tebu tersebut. Penjual es tebu pun akhirnya pontang-panting meminta pembayaran rombongan Ical ini. Menurut Ketua Balitbang DPP Partai Golkar Indra Jaya Piliang, melalui akun Twitternya @IndraJPiliang, panitia telah membayar Rp 110 ribu ke penjual es tebu tersebut.

Memang kapanpun dan dimanapun, rakyat kategori wong cilik senantiasa jadi objek. Suatu saat mereka bisa dijadikan sebagai objek kesuksesan sebuah episode drama televisi/film. Suatu saat bisa juga dijadikan objek untuk meningkatkan lumbung suara/dukungan politik, meskipun harus dengan mengorbankan wong cilik lain yang bahkan mungkin eksistensinya tak perlu dianggap ada. Hal yang sama terjadi pada Acit, seorang penjual es tebu kaki lima didepan sebuah restoran di Jambi.

Tak terpikir baginya bahwa dihari itu 4 Nopember 2013 adalah peristiwa membanggakan dalam sejarah hidupnya bisa bertemu ARB yang selama ini hanya bisa disaksikan dilayar kaca (khususnya siaran TV One dan ANTV) yang selama ini pemberitaan pencalonan sebagai RI-1-2014 begitu masive. Bukan hanya bisa bertemu langsung, tapi hasil dagangannyapun saat itu ludes diborong rombongan DPP dan DPD partai kuning yang saat itu usai menghadiri pelantikan Walikota terpilih Jambi.

Alih-alih mendapatkan pembayaran atas 90 gelas es tebu dagangannya yang semestinya bisa didapat dalam waktu singkat tanpa harus berkeliling dengan kucuran keringat, si Acid malah diombang-ambing untuk mendapatkan haknya. Lebih menyakitkan lagi setelah kesana-kemari meminta kejelasan pembayaran dan harus mengalami pengusiran, ternyata seluruh hasil dagangnnya dengn mudahnya hanya dihargai Rp.50ribu hanya berdasarkan asumsi sepihak.

Apakah semestinya wong cilik harus diperlakukan demikian? Meskipun memang ada wong cilik lain (tukang ojek) yang menikmati keuntungan menyeduh es tebu secara gratis. Inilah politik, yang selalu menjadikan kaum marjinal sebagai objek. Akankah kita pilih pemimpin yang demikian?.

Wednesday, November 6, 2013

Budaya Setiap Habis Pergantian Kapolri, Banyak Bener 'Tukang Tilang'

Sejak Kapolri Jendral Pol Sutarman menggantikan Timur Pradopo, sepertinya budaya 'setoran' sekaligus 'cari muka' tumbuh subur dan cenderung dijadikan 'budaya permanen'. Contohnya, adalah 'tukang tilang' ada dimana-mana, dan tidak peduli hari libur, kebut terus, kejar setoran. Busyet dagh.

Bang Caca setiap hari nyaris kena, dan selalu pada hari libur kena tilang. Karena, Bang Caca ndak pernah disiplin dan ndak punya Surat Ijin Mengemudi (SIM) hampir lebih dari 15 tahun, maka selalu kena tilang deh. Biasanya, kalau ndak ada pergantian Kapolri, hanya cukup menunjukan kartu PERS, sudah lolos dari kejaran tilang. Namun, selama seminggu ini, kartu PERS sepertinya ndak sakti lagi.

Hari Sabtu 2 November kena tilang, terus 3 November kembali kena tilang, dan terakhir Selasa 5 November kena tilang lagi. Namun semuanya ndak mungkin disidang, lha wong Bang Caca 'nyogok' dengan doku 'gocap ceng' untuk sekali dirazia.

Ngemeng-ngemeng dari beberapa teman anggota polisi, Bang Caca mendapat informasi, bahwa budaya pergantian Kapolri atau Kapolda, biasanya para anggotanya khususnya di lalu lintas akan melakukan 'kebut gunung' untuk melakukan operasi lalu lintas (kroyokan).

Tujuannya ada dua, pertama: para komandannya ingin menunjukkan kinerjanya kepada atasan yang baru agar mendapat perhatian bisa naik pangkat atau naik jabatan. Kedua: jika ada Kapolri atau Kapolda baru, biasanya para komandan-komandan dibawahnya berlomba-lomba mencari muka sekaligus memberi 'setoran' kepada atasan barunya, agar mendapat perhatian nantinya.

Menurut Anda gimana?