Wednesday, November 6, 2013

Budaya Setiap Habis Pergantian Kapolri, Banyak Bener 'Tukang Tilang'

Sejak Kapolri Jendral Pol Sutarman menggantikan Timur Pradopo, sepertinya budaya 'setoran' sekaligus 'cari muka' tumbuh subur dan cenderung dijadikan 'budaya permanen'. Contohnya, adalah 'tukang tilang' ada dimana-mana, dan tidak peduli hari libur, kebut terus, kejar setoran. Busyet dagh.

Bang Caca setiap hari nyaris kena, dan selalu pada hari libur kena tilang. Karena, Bang Caca ndak pernah disiplin dan ndak punya Surat Ijin Mengemudi (SIM) hampir lebih dari 15 tahun, maka selalu kena tilang deh. Biasanya, kalau ndak ada pergantian Kapolri, hanya cukup menunjukan kartu PERS, sudah lolos dari kejaran tilang. Namun, selama seminggu ini, kartu PERS sepertinya ndak sakti lagi.

Hari Sabtu 2 November kena tilang, terus 3 November kembali kena tilang, dan terakhir Selasa 5 November kena tilang lagi. Namun semuanya ndak mungkin disidang, lha wong Bang Caca 'nyogok' dengan doku 'gocap ceng' untuk sekali dirazia.

Ngemeng-ngemeng dari beberapa teman anggota polisi, Bang Caca mendapat informasi, bahwa budaya pergantian Kapolri atau Kapolda, biasanya para anggotanya khususnya di lalu lintas akan melakukan 'kebut gunung' untuk melakukan operasi lalu lintas (kroyokan).

Tujuannya ada dua, pertama: para komandannya ingin menunjukkan kinerjanya kepada atasan yang baru agar mendapat perhatian bisa naik pangkat atau naik jabatan. Kedua: jika ada Kapolri atau Kapolda baru, biasanya para komandan-komandan dibawahnya berlomba-lomba mencari muka sekaligus memberi 'setoran' kepada atasan barunya, agar mendapat perhatian nantinya.

Menurut Anda gimana?


No comments :

Post a Comment